Logo ToFarmer

“Beda Generasi, Beda Cara”

Peta Generasi & Cara Orang Berinvestasi

Supaya Anak Muda dan Orang Tua Bisa Saling Paham

Sebelum bicara panjang lebar soal investasi, ada satu hal penting yang sering kita lupa:
kita semua tumbuh di zaman yang berbeda.

Jadi wajar kalau cara melihat uang, menabung, dan investasi juga beda.
Bukan karena salah, tapi karena pengalaman hidupnya tidak sama.

Lihat peta sederhananya dulu.

Peta Generasi & Pola Investasi

GenerasiTahun LahirYang Biasa DipilihTujuannya
Baby Boomers1946 – 1964Emas, tanahAman
Gen X1965 – 1980Rumah, usahaStabil
Milenial1981 – 1996Saham, startupTumbuh
Gen Z1997 – 2012Crypto, AI, kreatorBebas
Gen Alpha2013 – ±2025Sistem & AIPegang kendali

Tabel ini bukan buat menghakimi.
Ini cuma alat bantu supaya kita ngerti posisi masing-masing.


Cara Orang Berinvestasi Selalu Mengikuti Zaman

Dulu hidup serba susah, jadi orang cari yang paling aman.
Sekarang dunia cepat berubah, orang cari yang bisa ikut berubah.

Jadi jangan heran kalau:

  • orang tua suka yang nyata

  • anak muda suka yang baru

Itu reaksi alami terhadap dunia yang mereka hadapi.


Kenapa Orang Tua Lebih Suka Emas dan Tanah?

Generasi Boomers hidup di masa yang tidak mudah.
Makan susah, kerja susah, masa depan tidak jelas.

Emas dan tanah itu:

  • bisa dilihat

  • bisa dipegang

  • tidak hilang begitu saja

Bagi mereka, investasi itu soal selamat.

Gen X sedikit beda.
Mereka hidup di masa peralihan, dunia mulai berubah tapi belum liar seperti sekarang.

Rumah dan usaha dipilih supaya:

  • hidup tenang

  • tidak jatuh mendadak


Milenial: Tidak Mau Diam di Tempat

Milenial hidup di zaman:

  • harga rumah mahal

  • kerja tidak selalu pasti

  • kebutuhan makin banyak

Kalau cuma nabung, rasanya susah maju.
Maka mereka mulai coba:

Bagi Milenial, investasi itu harapan untuk maju.


Gen Z: Mencari Jalan Sendiri

Gen Z lahir sudah pegang HP.
Mereka lihat sendiri:

  • sistem bisa kacau

  • kerja keras tidak selalu dihargai

  • peluang kadang tertutup

Crypto, AI, dan dunia kreator jadi jalan baru.
Bukan karena nekat, tapi karena:

  • bisa mulai dari nol

  • tidak harus punya modal besar

Bagi Gen Z, investasi itu soal kebebasan mencoba.


Gen Alpha: Lebih Tertarik Mengatur Sistem

Anak-anak Gen Alpha tumbuh bersama AI dan otomatisasi.
Mereka mungkin tidak terlalu mikir:

“Beli apa biar untung?”

Tapi mulai ke:

“Gimana caranya sistem ini jalan sendiri?”

Bagi mereka, yang penting bukan barangnya, tapi:

  • sistemnya

  • cara kerjanya

  • dampaknya


Untuk ntuk Orang Tua

  • Dunia anak sekarang beda jauh dengan dulu

  • Cara lama masih berguna, tapi tidak selalu cocok

  • Yang paling penting diwariskan itu nilai hidup, bukan cuma cara cari uang

Anak muda tidak kekurangan teknologi,
yang mereka butuhkan adalah arah.


Untuk Anak Muda

Teknologi boleh dipakai,
tapi akal sehat dan hati tetap penting.


Kalau orang tua menjaga nilai, dan anak muda berani membangun sistem baru, masa depan tidak perlu ribut — cukup jalan bareng 🌱


Menegaskan kembali tentang Metode Tanam Blok demi Blok


 

Metode Tanam Blok demi Blok

Belajar dari Pot, Kembali ke Tanah

Metode tanam blok demi blok berangkat dari pengamatan sederhana: menanam di pot membuat kita lebih paham kebutuhan tanaman. Di dalam pot, ruang tumbuh terbatas, tanah terukur, air dan nutrisi lebih mudah diamati. Kita jadi tahu kapan tanah terlalu padat, kapan terlalu basah, dan bagaimana akar berkembang.

Namun muncul pertanyaan yang sangat membumi, terutama di desa:

Kalau tanahnya luas, ngapain nanam di pot?

Di sinilah metode tanam blok demi blok menemukan bentuknya.


Pot Itu Alat Belajar, Bukan Tujuan

Pot bukanlah tujuan akhir bertani. Pot hanyalah alat belajar.
Ia mengajarkan satu hal penting: tanaman butuh ruang hidup yang jelas dan terkendali.

Metode blok demi blok mengambil prinsip pot, lalu melepaskannya dari benda pot itu sendiri. Yang dipertahankan bukan wadahnya, melainkan cara berpikirnya.


Dari Pot ke Tanah: Blok Tanam

Dalam praktiknya, metode ini dilakukan dengan cara:

  • Membuat lubang tanam sesuai kebutuhan tanaman

  • Mengisi lubang dengan tanah yang telah dikondisikan

  • Menanam langsung di tanah kebun, tanpa pot

Lubang tanam inilah yang berfungsi sebagai blok — ruang hidup tanaman yang jelas, terukur, dan tetap menyatu dengan tanah asli.

Tanah di sekitarnya tetap alami. Tidak dipaksa seragam. Tidak ditutup plastik. Tidak dipisahkan dari lingkungannya.


Mengenal Tanaman Lewat Blok

Keuntungan utama metode ini bukan semata hasil panen, tapi kedekatan dengan tanaman.

Dari satu blok ke blok lain, kita bisa belajar:

  • Bagaimana respon tanaman terhadap jenis tanah

  • Kebutuhan air yang sebenarnya

  • Cara akar berkembang

  • Kenapa satu tanaman tumbuh lebih baik dari yang lain

Tanaman tidak lagi diperlakukan sebagai objek produksi, tapi sebagai makhluk hidup yang kita pahami pelan-pelan.


Cocok untuk Desa, Tidak Ironis

Di desa, tanah biasanya masih luas. Alam masih dekat.

Metode tanam blok demi blok terasa lebih masuk akal dibanding menanam di pot di tengah kebun. Tidak ironis. Tidak konyol.

Kita tetap bisa bertani secara terukur dan terkendali, tanpa menjauh dari karakter alam desa.


Bertani dengan Cara yang Masuk Akal

Metode tanam blok demi blok bukan teknologi canggih.
Bukan juga solusi instan.

Ini adalah cara bertani yang:

  • Sederhana

  • Sadar

  • Membumi

Belajar dari alat, lalu kembali ke tanah.


Artikel ini merupakan bagian dari eksplorasi pertanian eksperimental ToFarmer, yang berangkat dari praktik lapangan dan pengamatan langsung terhadap tanaman.

Perlawanan Sunyi yang Kami Temui di Ladang Teh



Di balik hamparan hijau yang sering muncul di brosur wisata, ada cerita lain yang jarang diangkat. Cerita tentang kebun yang sebenarnya sudah ngos-ngosan. Tentang petani yang masih memetik daun, meski kebun itu bukan miliknya. Tentang hidup yang terus jalan, walau tak pernah disorot kamera.

Pangeran Diponegoro jelas tidak menanam teh. Tidak ada hubungan langsung antara perjuangan beliau dengan kebun teh. Tapi nama besar Diponegoro sering diseret ke mana-mana, dipakai untuk memberi kesan mulia pada proyek-proyek pembangunan yang datang jauh setelah zamannya. Simbol besar dipasang, sementara kenyataan kecil di lapangan sering ditutup rapat.

Kita melihatnya sendiri, bahkan kita mengalaminya. Pola yang dipakai adalah pola lama: perkebunan besar ala kolonial. Monokultur, rapi, mudah dihitung anggarannya. Lahan dibabat habis, lalu teh ditanam sebagai pengganti. Sistem ini hidup dari proyek dan dana, bukan dari keberlanjutan.

Selama dana mengalir, kebun dirawat. Begitu proyek selesai, kebun ditinggal, kebun teh tidak benar-benar dihidupkan . Selanjutnya Wisata jadi jalan cepat: pemandangan dijual, meski teh tak lagi jadi tumpuan utama. Cerita diperhalus, sejarah diringkas, kegagalan ditutup dengan foto-foto cantik.

Istilah seperti agrowisata teh aktif terdengar meyakinkan. Tapi tetap menyisakan tanya: aktif untuk siapa? Dari perkebunan ke wisata, sering kali itu cuma luka lama yang ditutup brosur. Sementara petani yang masih bertahan, itulah perlawanan yang paling sunyi.

Di tengah kondisi seperti itu, masih ada petani yang memilih tetap jalan. Mereka tidak semua lahan sendiri. Bahkan  menyewa atau mengontrak petak-petak kecil kebun teh yang belum sempat dibabat. Mereka memetik daun, mengolah seadanya, lalu menjual dalam skala kecil.

Tidak ada proyek besar di sini. Tidak ada janji. Yang ada cuma keberanian, konsistensi, dan pengetahuan yang diwariskan dari lapangan.

Kalau ini mau disebut gerilya, ini bukan gerilya angkat senjata. Ini gerilya hidup: bertahan supaya sesuatu tidak benar-benar mati. Di titik ini, narasi Diponegoro justru terasa lebih pas—bukan soal perang, tapi soal laku bertahan. Bedanya, kalau Diponegoro musuhnya jelas, petani hari ini sering tak tahu harus melawan siapa.

Dalam cara pandang Jawa, menang tidak selalu soal angka besar. Ada konsep menang tanpa ngasorake—menang tanpa merendahkan, menang tanpa harus menguasai. Petani teh ini mungkin kalah secara ekonomi dan kebijakan. Tapi selama mereka masih menanam dan merawat kebun dengan jujur, hidup itu belum kalah. Yang dijaga bukan cuma tanaman, tapi cara hidup.

Dari kesadaran sederhana itulah kami melangkah: yang masih hidup tidak boleh ditinggal sendirian. 

Peran kami sederhana dan realistis:


mencatat proses yang benar-benar terjadi,
menjaga agar cerita petani tidak hilang,
dan, jika kelak sistem memungkinkan, membantu menciptakan keberlanjutan bagi mereka yang tetap konsisten.

tags: #teh #kebunteh #patihombo #menoreh #kulonprogo

Cerita Lucu & Santai ToFarmer: Dari Dinding Maria Sampai Biji Mangga Sok Kuat



Hari-hari terakhir di ToFarmer itu kayak campuran acara Misteri Gunung Merapi, Memasak Bersama Mama, dan DIY Tukang Pemula—tapi versi Menoreh. Kita lagi sibuk-sibuknya bangun Dinding Maria, sebuah galeri lukisan kopi bertema rohani Katolik. Kedengarannya mewah ya? Tapi prosesnya… ya tetap ala ToFarmer: pakai sandal jepit, baju belepotan tanah, dan ditemani aroma kopi yang kadang jadi inspirasi, kadang bikin lapar.

1. Dinding Maria: Galeri Serius yang Dibangun Santai

Galeri ini nanti bakal jadi tempat lukisan-lukisan kopi nongkrong dengan anggun. Tapi proses ngebangunnya?
Ehm… anggun itu opsional.

Kadang kita ukur dinding pakai feeling, kadang pakai penggaris beneran. Yang penting berdiri dulu, nanti baru dipercantik. Filosofinya: yang penting mulai dulu, estetik belakangan.

Pokoknya Dinding Maria ini nanti bakal jadi tempat orang lihat lukisan sambil bilang,
“Wah ini yang bikin petani?!”
Iya, yang bikin petani. Dan petani sekarang bukan cuma jago cangkul, tapi jago nyeni juga.

2. Kompos: Sahabat Setia Tiap Hari

Di tengah pembangunan galeri, kita tetap setia sama si kompos. Setia banget. Bahkan kayak hubungan yang toxic: ditinggal bentar aja, dia marah, panas, dan baunya ke mana-mana.

Tapi kompos inilah yang jadi jantung pertanian ToFarmer.
Dari sampah dapur, daun kering, dan semangat sisa-sisa kita, lahirlah tanah kompos yang subur.
Kita aduk, kita bolak-balik, kita cek kelembapan…
Kaya ngurus anak kecil, tapi versi yang nggak bisa protes.

3. Eksperimen Mangga: Perjalanan 1 Biji yang Penuh Drama

Nah ini bagian paling seru.
Di sela-sela aktivitas padat, kita memulai eksperimen besar (padahal kecil tapi kita besarkan biar keren): menanam 1 biji mangga.

Cuma satu.
Karena fokus adalah kualitas, bukan kuantitas. (Alibi karena mangganya cuma satu biji.)

Langkah-langkah ilmiah ala ToFarmer:

  1. Biji mangga dijemur
    Biar dia mikir keras, “Aku harus kuat.”

  2. Dikupas kulit luarnya
    Supaya ibaratnya: kita bantu dia membuka jati diri.

  3. Ditancapkan ke tanah kompos buatan sendiri
    Jadi dia langsung merasakan premium treatment: first class soil.

  4. Diletakkan di lokasi jalan masuk Isoteri Kopi
    Karena suatu hari, kalau dia tumbuh besar, dia bakal jadi satpam alami.
    Dan nanti di jalur itu mau ditambah durian juga. Jadi si mangga ini calon tetangga dari raja buah.

Dan setiap pagi kita nengok dia sambil bilang,
“Gimana nak? Sudah siap tumbuh?”
Dia diam saja, tapi kita tahu dia sedang menghimpun kekuatan.

4. Jalan Masuk Isoteri Kopi: Masa Depan Buah-buahan

Rencana besar ToFarmer adalah menanam pohon buah di sepanjang jalan masuk: mangga, durian, dan mungkin buah-buah lain yang belum menentukan nasib.

Jadi suatu saat nanti, orang masuk ke Isoteri Kopi itu bukan cuma lihat bangunan dan kebun—
tapi disambut oleh buah-buahan yang kita rawat dari nol.
Kalau mangga pertama ini sukses, dia akan jadi founding father pohon buah ToFarmer.

5. Ritme Harian yang Aneh Tapi Masuk Akal

Satu hari bisa:

  • pagi bikin kompos,

  • siang bangun galeri,

  • sore cek biji mangga sok kuat itu,

  • malam baca chart trading,

  • tengah malam mikirin blockchain,

  • jam 2 pagi nulis artikel biar ada dokumentasi.

Orang luar mungkin bingung: “Ini proyek apa sih?”
Tapi bagi kita, semua hal itu justru saling nyambung.

Pertanian, seni, teknologi, trading — semua bertemu di satu kata: ToFarmer.

6. Penutup: Dari 1 Biji Mangga, 1 Galeri, dan 1 Semangat

Sebenernya apa yang kita lakukan sekarang terlihat sederhana:

  • Bangun dinding,

  • aduk kompos,

  • tanam satu biji mangga.

Tapi justru dari hal-hal kecil inilah masa depan ToFarmer sedang dirajut.
Yang penting kita bergerak, konsisten, dan tetap lucu menghadapi hari-hari yang melelahkan.

Suatu hari nanti, saat orang melewati jalan masuk Isoteri Kopi dan melihat mangga, durian, dan galeri Dinding Maria yang sudah berdiri megah, kita bisa bilang:

“Itu semua dimulai dari satu biji mangga yang sempat dikupas dan dijemur.”



Eksperimen Trading ToFarmer di Kampung: Dari Buru Scatter ke Buru Sinyal MACD


“Dari yang awalnya mengejar scatter, kini mulai mengejar sinyal MACD.”



Eksperimen Pelatihan trading yang baru saja kita jalankan selama satu bulan terakhir merupakan salah satu eksperimen kecil ToFarmer untuk memahami apakah ilmu modern seperti trading dapat dipelajari dan diterapkan oleh masyarakat desa yang minim literasi. Eksperimen ini sengaja dimulai dari satu orang saja, seseorang yang dulunya adalah petualang slot meski nggak parah :) tetapi memiliki keinginan untuk belajar hal yang lebih masuk akal dan terukur. Tantangan terbesarnya bukan hanya pada teknis aplikasi, melainkan pada perubahan cara berpikir dari pola judi menuju pola dagang yang penuh perencanaan.

Perubahan mindset ini tidak bisa dilakukan secara cepat. Pendekatan yang kita ambil adalah membandingkan langsung antara kebiasaan slot dengan trading. Slot mengandalkan keberuntungan, sensasi, dan tombol yang ditekan tanpa perhitungan. Trading justru kebalikannya, karena penuh pertimbangan, alasan masuk, alasan keluar, dan disiplin mengelola risiko. Materi pertama yang diulang hampir setiap pertemuan adalah bahwa trading itu dagang, bukan judi. Dengan cara itu, proses memahami konsep menjadi lebih mudah karena penjelasan memakai bahasa yang sudah akrab bagi peserta.

Hambatan berikutnya adalah teknis. Karena peserta berasal dari generasi sebelum milenial, teori-teori seperti price action, pola candlestick, dan edukasi online yang rumit tidak bisa digunakan. Materi harus disederhanakan, bukan dipersulit. Kita memilih aplikasi MT5 versi Android karena tampilannya konsisten dan cukup mudah dipahami. Fokus awal bukan pada teori harga, melainkan pada kebiasaan melihat chart. Peserta diminta belajar memasang indikator, menghapus, lalu memasang lagi hingga hafal posisi tombol. Dengan begitu, rasa takut terhadap tampilan aplikasi berangsur hilang.

Indikator yang digunakan pun hanya dua: Moving Average dan MACD. Kita menghindari pembahasan berat yang justru membuat bingung. Dengan dua indikator ini saja, peserta dilatih membaca arah, mengenali kecenderungan, dan memahami kapan entry dilakukan. Kita membuat SOP sederhana yang bisa dihafal tanpa catatan. Pertama melihat arah MA, lalu mengecek apakah MACD searah. Jika searah, barulah entry dilakukan. Setiap entry harus memasang stop loss dan take profit. Ini melatih kedisiplinan dasar yang sangat penting untuk menghilangkan kebiasaan menekan tombol secara impulsif seperti di slot.

Hasil dari eksperimen ini cukup mengejutkan. Dalam waktu satu bulan, peserta sudah mampu mengoperasikan MT5 sendiri, memahami fungsi indikator dasar, dan mengikuti SOP entry tanpa paksaan. Lebih dari itu, akun demo yang ia jalankan sendiri menghasilkan profit sekitar sepuluh persen. Angka ini bukan ukuran keberhasilan utama, tetapi menjadi bukti bahwa pendekatan sederhana dan terarah ternyata bisa diterima oleh masyarakat desa dengan latar belakang minim literasi digital.

Eksperimen ini penting bagi ToFarmer karena memberikan data nyata tentang bagaimana pengetahuan modern dapat dibawa masuk ke kehidupan lokal jika penyampaiannya disesuaikan. Kita belajar bahwa hal baru tidak harus ditolak, asalkan cara memperkenalkannya benar dan tidak memaksa. Pengalaman satu orang ini memberi gambaran tentang pola pikir desa, hambatan sebenarnya, serta metode belajar yang paling efektif bagi generasi lama.

Sekecil apa pun langkahnya, pelatihan ini memberi harapan bahwa trading bisa menjadi salah satu cabang pengetahuan yang beriringan dengan kehidupan desa. Jika satu orang bisa beradaptasi, maka bukan tidak mungkin di masa depan akan ada lebih banyak lagi yang mampu mengikuti jalur yang sama. Dari satu orang ini, ToFarmer memperoleh fondasi awal untuk pengembangan sistem pelatihan yang lebih luas dan lebih terukur.

Panen Pertama ToFarmer: Ubi Jalar Blok 1

 


Panen Pertama ToFarmer: Ubi Jalar Blok 1

Akhirnya… panen juga!
Setelah 7 bulan menunggu, ToFarmer mencatat panen pertama dari Blok 1 — si lahan percobaan yang dari awal memang niatnya bukan cari hasil besar, tapi cari pengalaman nyata.






Cerita Singkatnya

Di Blok 1 ini ditanam 12 batang ubi jalar dari bibit yang dulu dipilih dari umbi besar—harapannya biar

Makalah Kecil tentang identitas dunia dan identitas batin



Disini saya/kita akan membagikan sebuah alur dalam mengenal diri kita sendiri, kita tau kelemahan kita pada narasi bahkan tentang diri kita sendiri , bagaimana mau membangun narasi besar tentang sebuah wilayah, apalagi sebuah negara ... kejauhan , kita kenali diri kita sendiri dulu . Dibawah ini kita tuliskan makalah sederhana tentang hal ini yang didapat dari refleksi tentang diri saya sendiri ( penulis)


Mengenali Identitas Dunia dan Batin


Setiap orang punya dua sisi yang berjalan bersama: sisi dunia dan sisi batin.
Sisi dunia adalah bagian yang tampak — pekerjaan, karya, dan cara kita hidup setiap hari.
Sisi batin adalah